Art Of Alchemy - Part 2



“Oh my god” bisik Chester dengan pelan dan penuh perasaan, mata dengan iris hijau itu membelalak, memperhatikan gadis dengan warna pastel itu dengan seksama.
Rambut bob berwarna pastel pink itu terurai dengan indah hingga ke bahu gadis itu. Matanya berwarna caramel dan memiliki cahaya yang menyebabkan hati Chester bagaikan di remas.
“hoi!” tiba-tiba lamunan Chester terbuyar oleh teriakkan mana kecil tersebut.
“a-ah! Ma-maaf! Ya, aku Aurel Chester, salam kenal”  lelaki jangkung itu memperkenalkan dirinya. Ia mengulurkan tangannya, sang gadispun keluar dari rumah kacanya dan menjabat tangan Chester dengan senyum ramah.
“selamat datang di Belias Flower Shop. Namaku Lily Marlee, dan ini adalah Belias. Dia adalah Mana api” Suara wanita itu bagaikan angin musim semi di sertai dengan bubuk bunga, kadang membuatmu sakit, tetapi wanginya manis.
“kau Alchemist?” hal itu yang pertama kali di tanyakan Chester begitu mendengar nama mana tersebut. Lily menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil
“Belias sudah lama tinggal dilingkungan ini. Bagaimanapun perubahan pada tempat ini, ia menolak untuk pindah” bagaikan membaca pikiran Chester, Lily menjelaskan tentang Belias padanya. “aku seorang penyihir hijau, pemilik tempat ini, ada yang bisa ku bantu, Alchemist Chester?”
“ah, aku sedang mencari bunga, chamomile, apakah ada?” Chester kembali membenarkan tali tas ranselnya. Ia kembali ke akal sehatnya.
“oh! Tentu saja! Butuh berapa? Yang kering atau yang segar?”
“yang segar saja, saya butuh 1 lusin saja, kalau bisa dengan daun dan batangnya” ujar Chester, Lily mengangguk kecil dan segera kembali ke rumah kacanya di ikuti Belias. “hei alchemist muda, masuk dulu, butuh beberapa menit untuk menyiapkannya” perintah Belias yang memegang pintu rumah kaca tersebut, dengan segera Chester masuk kedalam rumah kaca dan terbelalak melihat ternyata rumah kaca tersebut lebih besar dari perkiraannya.
Ia dapat melihat beberapa pohon besar, mulai dari daerah tropical hingga yang biasa ia lihat di hutan, terdapat bagian bunga hias, herbal, bahkan rumput liar dan rumput hias. Tempat ini bagaikan hutan, tapi lebih tersusun. Terdapat sofa lengkap dengan meja dan lemari kecil di sebelah pintu masuk, dan meja besar ditengah rumah kaca ini, sepertinya itu tempat bekerja Lily.
“astaga” Chester juga dapat merasakan sihir yang mengalir di dalam ruangan ini , membuatnya pusing sedikit. Dia hanyalah seorang Alchemist, kekuatan sihirnya terbatas, sedangkan kekuatan disini bagaikan menari hingga ke nadi Alchemist ini.
“minum ini, sepertinya kau akan pingsan”  Belias meletakkan segelas air putih berisi kelopak bunga di atas meja. “dan duduk lah” perintah Mana itu dan dengan diam Chester meminum air bunga tersebut. Ia dapat merasakan pusingnya menghilang setelah meneguk air tersebut, mungkin terdapat beberapa mantra didalamnya dan ia dapat bernafas dengan lega kembali.
“hey tuan Belias, apakah kau tidak merasa aneh berada di tengah tumbuhan seperti ini?” Chester membuka percakapan kepada Mana yang sedang meminum segelas air bunga juga.
“aku cukup tua untuk hidup di tempat yang bukan sifat alami ku, jadi aku tidak memiliki masalah. Tempat ini membutuhkan aku juga saat musim dingin” jelas Belias, Chester sama sekali tidak menyangka dengan jawaban jujur dari Mana yang dari tadi memerintahnya ini.
“apakah kau sudah mempunyai partner Alchemist muda?” Tanya Belias, mata bambi itu menajam bagaikan ia menilai Chester. Lelaki berambut keriting itu menggeleng dan menghela nafas.
“beberapa Mana berbaik hati menolongku kadang, tetapi belum ada yang tertarik menjadi partnerku”
“hm…” hanya itu sahutan dari Belias dan Chester tahu kalau perbincangan mereka telah berakhir. Ia menghela nafas dan merasakan oksigen yang lebih bersih masuk ke dalam paru-parunya.
“bagaimana keadaan pastor itu? Apakah dia sehat?” tiba-tiba Belias kembali bertanya kepada Chester, membuatnya terkejut.
“Ah. Dia sehat, belakangan ini banyak warga yang membutuhkan nasihat dia. Jadi dia agak sibuk”
Belias mengangguk pelan dan kembali menyesap air bunga itu, “kau masih belum menemukan sekolah?”
“bagaimana kau tahu tentang ku Tuan Belias?” Chester mulai tidak nyaman dengan pertanyaan pribadi dari Mana tersebut. Belias tertawa kecil dan menatap sekelilingnya.
“tumbuhan dan angin di sini berbicara dan mendengar. Aku adalah salah satu bentuk fisik mereka, tentu saja aku tahu apa yang terjadi di kota ini dan orang-orang yang tinggal disini” jelas Belias “maafkan aku jika membuatmu tidak nyaman, hanya saja kau seperti membawa kesedihan bersamamu dengan matamu itu, aku harap pertanyaanku tidak membuatmu tersinggung”
“kau Mana yang sangat tenggang rasa tuan Belias” Chester langsung mengutarakan isi hatinya begitu mendengar penjelasan Mana api tersebut, di tambah dengan suaranya seperti balita membuat Chester agak terganggu tapi ia menyimpanyna demi keselamatan nyawanya. “dan ya, aku jarang ke kota jadi aku sedikit terkejut mendengar kau bahkan tahu tentang aku yang sedang mencari sekolah”  tawa kecil yang manis terdengar dari Belias, matanya terlihat simpati kepada Chester.
“kau Alchemist yang jenius, aku tahu itu, warga kota sangat menyukaimu. Seperti yang kubilang, aku sudah cukup tua. Datang lah kapan saja kesini jika kau ingin teman, aku dan Lily tidak keberatan jika orang selain orang biasa dan teman Coven nya datang ke tempat kami” tawar Belias dan Alchemist  itu sangat terkejut. “kau anak yang baik, semua orang menyukai mu, tetapi tidak ada yang cukup berani untuk menemani seorang Chester” sambung Belias dan mata Chester menyipit.
“sepertinya anda terlalu banyak tahu tuan Belias” ujar Chester dan tawa renyah terdengar dari mulut Belias.
“Belias! Hentikan itu! Kau tidak boleh mencampuri urusan orang!” Lily datang dengan sebuket bunga chamomile segar, wajahnya merengut dan menatap Belias dengan kesal. “maafkan dia ya, dia seperti kakek-kakek, selalu ikut campur dengan urusan orang” Lily memberikan buket itu kepada Chester, yang menerimanya dengan mulut ternganga.
“hei! Dia membutuhkannya! Dan semua yang aku katakan benar!” Belias membela diri sambil melipat kedua tangan kecilnya.
“hot damn ini adalah bunga chamomile yang paling bagus yang pernah aku lihat! Kau adalah penyihir yang hebat  nona Marlee!” seru Chester tiba-tiba, ia memandangi bunga-bunga tersebut dengan kagum, memutarnya ke segala arah dan menyentuhnya dengan hati-hati.
Semburat merah muncul dikedua pipi bulat milik Lily, ia tertawa kecil dan matanya bercahaya dengan penuh kebanggaan. “mereka banyak bicara tetapi mereka bekerja keras untuk tumbuh” ujar Lily dengan malu-malu,
“ah ya kalian bisa berbicara dengan tumbuhan ya. Sungguh beruntung” ujar Chester lagi, ia merogoh kantungnya dan mengeluarkan kantung uangnya.
“ah kadang aku harus menutup telingaku, tumbuhan di sini sangat suka bergosip terutama dengan Belias” Lily menatap tajam Belias yang  dari tada hanya membersihkan jari-jarinya, pura-pura tidak mendengar perkataan Lily tadi.
“ah dan bunganya gratis” sambung Lily dengan semburat merah yang menyerupai warna rambutnya, Chester menatapnya dengan mulut terbuka. “hah? Apa? Nona Marlee, ini bunga kualitas tinggi, aku yakin harganya 10 Gold! Aku bisa membayarnya tenang saja!” seru Chester yang merasa tidak enak dari tadi mendapat diskon besar-besaran dari penjual kota.
“sebagai gantinya, datanglah besok kesini untuk menemaniku minum the” gumam Lily dengan wajah yang hampir sama dengan warna rambut Belias. Chester yang mendengarnya mencerna setiap kata dari Lily, hingga akhirnya ia dapat memahami maksud Lily yang sebenarnya. Wajahnya langsung memerah dan jantungnya berdegup kencang.
“HAH?” dan dengan bodohnya dia berteriak.
-TBC-

Post a comment

0 Comments