Art Of Alchemy - Part 3


“umm… mari minum teh bersama, besok sore.. t-tapi kalau kau sedang sibuk tidak apa-apa!” Lily mengulangi ajakkannya, wajahnya sangat merah dan ia tidak berani menatap langsung mata Chester. Sedangkan Alchemist itu hanya menatapnya dengan bingung, wajahnya juga memerah.
“u-umm aku rasa aku sudah menyelesaikan pekerjaanku besok sore, ta-tapi biarkan aku membayar bunga ini Nona Marlee” pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terlihat senang, mata hijaunya yang terlihat pudar memiliki cahaya walau tertutupi oleh kelelahannya yang terlihat jelas di kondisi fisik wajahnya. Ia memiliki kantung mata dan matanya merah.
“u-umm aku rasa aku sudah menyelesaikan pekerjaanku besok sore, ta-tapi biarkan aku membayar bunga ini Nona Marlee” pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia terlihat senang, mata hijaunya yang terlihat pudar memiliki cahaya walau tertutupi oleh kelelahannya yang terlihat jelas di kondisi fisik wajahnya. Ia memiliki kantung mata dan matanya merah.
“a-ah… tidak apa-apa lagipula para Chamomile lainnya sudah setuju bahwa mereka ingin digunakan oleh mu Alchemist Chester” Lily menggelengkan kepalanya sedikit, ia melipat tanganyna didepan dadanya dan menarik nafas panjang. “mereka juga mengundangmu, datanglah besok jika kau mempunyai waktu” sambungnya, Chester menatap matanya sebentar, terlena dengan cahaya yan dipancarkan oleh warna caramel itu.
“baiklah” jawab Chester setelah beberapa saat, senyum simpul perlahan terukir di wajahnya, ia dapat merasakan kelelahannya menyesap di tulangnya, rasanya ia sangat mengantuk dan puas, hatinya penuh dan hangat. Mungkin karena aliran sihir disini yang penuh, entah lah, ia tidak bisa berpikir panjang karena sihir di sini di tambah dengan Belias yang merupakan Mana yang cukup kuat.
“terimakasih atas bunganya, aku akan berusaha untuk menggunakannya dengan baik, aku permisi. Nona Martha perlu tidur malam ini.” Jelas Chester yang menaruh bunga-bunga tersebut ke dalam keranjang yang bergantung di salah satu tali ranselnya.
“sampai ketemu besok Nona Marlee”
“panggil aku Lily, Alchemist Chester” potong Lily dengan tergesa-gesa, dan Chester dapat merasakan rumah kaca ini sedikit memanas, bahkan ia merasa tumbuhan di belakang Lily bergoyang ke kanan dan ke kiri.
“kalau begitu panggil aku Aurel” entah apa yang menghantui Chester, tiba-tiba saja ia menawarkan Lily untuk memanggil nama depannya yang sangat ia benci. Tetapi melihat senyuman manis hingga mata kecil itu membentuk bulan sabit dan Chester sangat yakin bahwa di tumbuhan disana seperti bergembira mengetahui pemilik mereka bahagia. Membuat Chester tidak jadi menyesal menawarkan namanya tadi.
“baiklah, sampai jumpa besok, Aurel” dan saat itu juga Chester benar-benar yakin tidak menyesal untuk meminta Lily memanggil dengan nama depannya. Namanya terdengar pas saat diucapkan oleh Lily, dan Chester menyukainya, berharap ia akan mendengarnya sekali lagi.
“okay, sampai jumpa, Lily, Tuan Belias” Chester melambaikan tangannya kepada mereka berdua dan keluar dari rumah kaca itu.
“seharusnya kau tidak mendengar kata-kata Chamomile, mereka bukan pemberi saran yang baik” ujar Belias tiba-tiba. Lily tersentak dan menjulurkan lidahnya kepada Belias, lalu pergi meninggalkan Mana Api itu sendirian menikmati ramuan bunganya sendiri.
-*-
Esok harinya, matahari masih bersinar di atas langit, menunjukkan hari masih aktif dan orang-orang masih beraktivitas. Di dalam toko bunga Belias, seorang penyihir hijau berambut merah muda sedang sibuk memilih teh yang akan ia minum bersama Alchemist lokal nanti, ia menyesal tidak menanyakan teh macam apa yang ia sukai.
Tetapi melihat kondisi sang Alchemist yang sangat memprihatinkan, penyihir ini sangat tergoda untuk memberinya ramuan tidur, karena kantung mata yang sudah hampir berwarna ungu tua, mata yang merah, dan kulit yang pucat itu membuatnya sangat khawatir.
Ia tahu Alchemist sangat sibuk karena pekerjaan mereka bukan hanya menyatukan bahan lalu membaca mantera seperti penyihir, mereka harus mengolah bahan-bahan yang ada, memikirkan apakah efek dari bahan-bahan tersebut akan cocok dengan hasilnya, apakah bahan-bahan tersebut dapat bekerja sama dengan baik, dengan perhitungan yang tepat demi mendapatkan hasil maksimal, seperti meramu obat biasa, tetapi menggunakan kekuatan sihir dan sari murni bahan-bahan tersebut sedikit menciptakan alat sihir hingga makanan ajaib.
Tetapi sesibuk apa Alchemist di kota yang tidak terlalu besar ini? Toko obat, dokter, shaman, toko baju/armor, senjata, bahkan toko serba ada juga ada. Bahkan penyihir seperti Lily juga ada di kota ini. Seharusnya Chester tidak sesibuk itu kecuali ia mempunyai penelitian khusus.
“aku dapat mendengar kau berfikir, siapkan saja black tea dan assam, aku rasa dia adalah penikmat klasik” Belias yang sedang membantu Lily untuk menyiapkan tempat mereka menikmati teh berkata kepada Lily. Dan tanpa berkata apapun Lily menyetujui Mana tersebut dan mulai menyiapkan beberapa teh kedalam teko untuk siap di seduh nanti.
Dan tanpa terasa waktu yang dijanjikan hampir datang, langit kota ini terlihat kuning muda, menandakan matahari akan terbenam dalam beberapa jam tadi, Lily berdiri di tengah-tengah ruang tunggu toko bunga nya, ia telah berganti baju, ia mengenakan blouse berwarna peach dengan lengan tanjang yang ujungnya dipenuhi dengan ruffle yang manis, sebagai bawahannya ia menggunakan rok A yang manis berwarna broken white, ia terlihat sangat chic dan lembut dengan rambut merah mudanya di hias oleh jepit rambut bunga Dahlia putih dan sedikit perhiasan di tubuhnya.
Semua persiapan telah selesai, ia hanya tinggal menunggu Chester datang dan mengetuk pintu.
“kau semangat sekali hanya untuk minum teh” komentar Belias yang memakai baju yang senada dengan Lily, semburat merah muncul di kedua pipi Lily mendengar komentar Mana tersebut.
“p-perasaanmu saja!” seru Lily yang kembali kabur dari tempat kejadian menghindari komentar jahil dari mana itu.
Tetapi tanpa terasa kembali waktu telah berlalu, hingga langit menunjukkan warna oranye gelap, rumah kaca yang transparan itu terisi dengan warna oranye yang indah, jika dengan seksama terlihat debu kecil atau serbuk bunga yang berterbangan di dalam ruangan tersebut.
“apakah ia belum selesai bekerja?” Lily mulai khawatir dengan Chester yang tidak kunjung datang dan memberi kabar. Ia duduk di salah satu bangku tempat mereka akan mengadakan pesta teh bersama, Belias duduk didepannya sambil menatap sedih Lily. Toko mereka sudah ditutup dari tadi, bahkan Lily memasukkan papan bunganya yang ada di luar jalan.
“mungkin saja” bisik Belias dengan pipi tembamnya yang memerah karena suhu di ruangan mendingin, tumbuhan di rumah kaca tersebut bergoyang seperti di tiup angin, mereka berusaha menghibur sang pemilik.
“tidak apa-apa, kalian semua tidak perlu khawatir” ucap Lily dengan senyum kecut. “kita tunggu saja sebentar lagi, aku akan menghidupkan lilin” sambung Lily yang bangkit dari tempat duduknya.
“mari aku bantu” tawar Belias yang turun dari bangkunya dan mengikuti Lily.
Secara perlahan mereka berdua menghidupkan beberapa lentera kecil di setiap sudut ruangan, berkat bantuan Belias, api dengan mudah di hidupkan.
Hingga akhirnya malam telah tiba, tanda-tanda Chester tidak ada. Bahkan para tumbuhan tidak mendapatkan kabar dari tumbuhan luar lainnya. Membuat hati Lily kecewa.
“mungkin dia sibuk, ayo kita nikmati tehnya Belias” ajak Lily dengan nanar yang sendu. Tungkainya berjalan menuju meja kecil yang sudah di hias sedemikian rupa untuk meminum the, ia membaca mantera pendek dan air didalam teko tersebut kembali panas, dengan lihai ia menuang beberapa gram serbuk teh kedalam teko tersebut dan mengaduknya dengan pelan.
Belias kembali duduk di kursinya sebelumnya dan membagikan 2 cangkir teh, satu untuknya, satu lagi untuk Lily.
“seharusnya aku tidak mengajaknya, apa aku terlalu terang-terangan?” Tanya Lily dengan alis yang berkerut, matanya berkaca sakingkan kecewanya.
Ia mengerti bahwa Alchemist itu sibuk, tetapi Chester telah berjanji padanya. Dan ia tahu bahwa ia tidak seharusnya mempercai perkataan orang yang baru saja di kenalnya.
“tidak juga Lily, mungkin dia benar-benar sibuk. Kau sudah melihat bagaimana kondisinya semalam, ia terlihat satu langkah lagi menjadi zombie” hibur Belias yang memegang tangan kecil milik Lily.
-tok tok tok-
Kedua makhluk sihir tersebut mengangkat kepala mereka, mereka saling menatap satu sama lain dengan ekspresi terkejut, bagaikan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
“Lily?”
-TBC-

Post a comment

0 Comments