Art Of Alchemist - Chapter 4


“Lily?” terdengar suara yang dari tadi ditunggu oleh makhluk sihir didalam rumah kaca tersebut, mata caramel milik penyihir itu terbalalak tidak percaya.

“ah… apakah sudah pulang ya?” terdengar gumaman lembut dan suara kain yang saling bergesekkan. Dengan tergesa – gesa Lily menaruh kembali teko teh nya dan dengan gelagapan hingga hampir menumpahkan isinya, lalu ia berlari menuju pintu utama.

“ya?” sahut Lily sambil membuka pintu tersebut dengan kasar, wajahnya terperangah melihat Alchemist berambut hitam tersebut, ia berpakaian rapih dengan kemeja putih berenda, dan celana hitam beserta sepatu formal berwarna hitam, Lily dapat melihat wajahnya lebih segar dari sebelumnya, kantung matanya masih ada, tetapi tidak ada tanda kelelahan di wajahnya, yang ada hanya khawatir dan terkejut terpancar dikedua mata tersebut, rambut hitam yang kemarin menutup sebagian matanya tersebut disibak ke belakang dan ditahan dengan headband kecil. Memancarkan mata hijaunya beserta bulumatanya yang panjang tersebut.

“o-oh! Syukurlah! Aku sangat minta maaf, aku ketiduran, setelah aku membuat potion untuk insomnia ibu Martha dan memberikannya, aku penasaran apakah potionnya berhasil atau tidak mengingat bahwa chamomile yang kau berikan sangat bagus, jadi aku mencobanya sendiri, lalu aku tertidur sangat lama hingga beberapa menit yang lalu aku terbangun. Aku tidak menyangka kekuatannya hingga sampai segitu, kau bayangkan saja aku tidur selama 20 jam tanpa terganggu apapun, dan aku kira kau sudah pulang, aku sungguh minta maaf Lily” jelas Chester dengan wajah penuh penyesalan, ia sedikit terengah karena berbicara terlalu cepat.

Lily terperangah mendengarnya, apakah Aurel secapek itu? Atau memang ramuannya semujarab itu?

“masuk dulu” akhirnya Lily mengajak Chester setelah jeda beberapa saat, dengan gerakkan yang kikuk Chester mengulurkan tangannya yang dari tadi berada dibelakang dan menunjukkan sebuah bungkusan kecil dihiasi dengan pita dan bunga kering. Terlihat sangat cantik dibawah cahaya remang rembulan.

“ini… sebagai buah tangan dan permintaan maaf. Aku tahu kalau aku keterlaluan” gumam Chester dan Lily hanya menggeleng, dengan senang hati ia menerima buah tangan dari Chester.
“bukan salahmu, aku juga tahu kau sedang capek. Bahkan aku cukup senang kau mendapat istirahat lebih” kata Lily yang berbalik menuju ruang tunggu nya.  Memperhatikan setiap detail kertas lembut yang menutupi hadiah dari Chester.

“apa isinya? Boleh aku buka?” Tanya Lily dengan senyum sendu, dengan penerangan berwarna oranye yang cukup menunjukkan semburat kecil di pipnya yang manis. Suara daun yang bergoyang menjadi latar mereka malam ini.

“ah, sebaiknya kita duduk dulu” sambung Lily, ia duduk di bangkunya diikuti dengan Chester, alchemist itu tersenyum kecil kepada Belias yang menatapnya dalam diam sedari tadi. Sementara itu Lily dengan semangat membuka hadiahnya, saat tali yang terbuat dari tumbuhan itu terbuka, ia melihat satu pasang sarung tangan berwarna cokelat dan terlihat terbuat dari kulit, dibawahnya terlipat sebuah apron berwarna peach yang sangat terlihat indah. Lily mengambil sarung tangan itu dengan hati-hati dan ia dapat merasakan kekuatan sihir mengalir dalam sarung tangan itu.
“ini…”

“ah, ini gardener glove. Manfaatnya bisa membuat pekerjaanmu lainnya ringan, seperti mengangkat pot bunga yang berat atau hanya mencangkul atau pekerjaan berat lainnya, tidak disarankan memakai ini jika didekat seseorang, kau akan memukulnya 10 kali lebih kuat karena mau aku akui atau tidak, sarung tangan iini bisa digunakan untuk bertarung jarak dekat” jelas Chester dengan satu kali nafas, ia terlihat gugup dan tersenyum kaku.

“oh.. ini pasti akan sangat membantuku, terima kasih Aurel” untuk pertama kali dalam malam itu Lily memanggil nama Chester, lelaki tersebut merasakan jantungnya berhenti sedetak, dan nafasnya terhenti saat gadis itu menyebut nama depannya.

“da-dan, aku rasa kau akan suka apron baru, apron tersebut baru aku buat semalam setelah mengerjakan ramuannya, tidak ada yang special dari apron itu kecuali lebih mudah di bersihkan dan dari bahan yang kuat” sambung Chester diikuti tawa kecil darinya. Lily tersenyum manis dan meletakkan kembali sarung tangan tersebut, menaruhnya di atas meja kecil yang ia sediakan.
“terima kasih, mari kita mulai pesta teh pertama kita” ajak Lily dan ia dapat melihat bahu Chester turun sedikit, menyatakan ia telah merasa rileks.

Dan akhirnya setelah menunggu seharian, Lily dan Chester menikmati waktu mereka bersama, dengan Belias yang menceritakan bebeapa sejarah yang terjadi pada kota ini yang sama sekali tidak diketahui oleh Chester. Memberikannya beberapa wejangan dan saran untuk mengembara atau melakukan penelitian.

Chester mengetahui juga bahwa Lily tidak terlalu terikat dengan Covennya yang terdiri hanya 3 orang, 1 penyihir hijau, 1 penyihir api, dan yang paling mengejutkan adalah penyihir hedge yang lebih sering dikenal dengan dukun. Entah bagaimana sihir mereka bisa selaras dan menjadi satu kumpulan penyihir. Tetapi Chester sangat mengerti bahwa kelompok mereka tidak bisa diremehkan, apalagi dengan besarnya rumah kaca milik Lily ini, butuh kekuatan alam yang seimbang dan keselerasan antara kekuatannya dengan tanah disini untuk membuat seluruh tumbuhan disini tumbuh dengan baik.

“datang lah kapan-kapan ke rumahku, aku membuka toko juga disana” kata Chester yang membantu Liv merapikan mejanya. Lily tertegun medengarnya.
“ah.. aku.. jarang keluar dari rumah kaca, jadi aku tidak tahu dimana rumahmu” jawab Lily dengan malu.

“ah kalau begitu pakai ini saja, benda ini akan menunjukkan arahnya, aku sering memakainya jika tersesat” Chester mengeluarkan sebuah benda, gelang berwarna kuning dengan sayap kecil menghiasi gelang tersebut.

“cukup menggunakan gelang ini, jangan terlalu kencang memakainya, karena dia akan menarikmu kearah tujuanmu” jelas Chester, ia menarik tangan kanan Lily dan memasangkannya ke pergelangan tangan Lily. Gadis itu cukup terkejut begitu menyadari bahwa mereka sangat dekat. Ia mendongak dan terkejut menemukan sepasang mata yang fokus memasangkan gelang tersebut. Mata Chester sangatlah indah. Di bawah sinar bintang dan rembulan, cahaya dimata zamrudnya seperti menari mengitari sekitar bolamatanya.

“kau hanya perlu memikirkan tujuanmu, maka sayap kecil ini akan bergerak dan menarikmu menuju tujanmu. Tidak peduli apakah kau pernah melihat tujuanmu atau tidak, cukup pikirkan nama tempatnya saja” kali ini Chester mulai berbicara perlahan dan pelan. Dan dengan jarak yan sedekat ini Lily semakin menyadari betapa beratnya suara Chester. Bagaikan ia tersadar bahwa Chester adalah benar-benar seorang pria dewasa.

“kau bisa memilikinya Lily, anggap saja hadiah atas teh herbalmu yang nikmat. Aku bisa membuatnya lagi haha” Chester mundur dari Lily, ia tersenyum bahagia, lebar, wajah memerah karena degup jantungnya yang berdetak kencang dan perasaannya sungguh nyaman. Mungkin karena teh tadi.

“terima kasih tuan Belias, aku harap bisa bertemu denganmu kembali” Chester berlutut kepada Belias, bagaikan Belias adalah seorang raja. Mana api tersebut membusungkan dadanya, dan mendeham kuat. “aku menunggu penelitian terbarumu Alchemist  Chester” ujar Belias dan alchemist muda itu berdiri sambil tertawa renyah.

“baiklah, selamat malam Lily, sampai jumpa” Chester membuka pintu ruang kaca tersebut dan melambaikan tangannya kepada dua makhluk sihir yang ada disana.

“selamat malam, hati-hati dijalan” ujar Lily yang membalas lambaiannya. Lalu Chester tersenyum dan menutup pintu kaca tersebut.

“Wings Of Icarus, benda itu sangat sulit untuk dibuat, hanya Alchemist setinggi professor yang bisa membuat benda tersebut. Benda ini adalah salah satu resep terlama yang masih ada” Tiba-tiba Belias menarik tangan Lily dan memperhatikan gelang tersebut. “kau memiliki selera yang tinggi Lily. Seorang Chester garis terakhir dan penyihir sekuat dirimu akan menghasilkan anak yang sangat hebat hahaha” Belias tertawa lebar dan meninggalkan Lily yang berwajah merah sekali.

“KAMI HANYA BERTEMAN DASAR MANA TUA!”
-TBC-

Post a comment

0 Comments