When You Open Your Eyes - Part 8


Kareen Plot,
“kenapa? Apa karena kamu kasihan pada ku?”
‘Kasihan? Gue bukan tipe orang mudah kasihan dengan orang lain’ bathin gue. Tidak tau mengapa perkataan Keysia itu terus mengganggu pikiran gue.  Gue jadi tidak bisa konsen dengan pekerjaan yang menumpuk ini. Gue tutup laptop gue dan gue sandarkan badan gue ke kursi sofa.
Gue akui sikap gue memang berubah pada nya semenjak kejadian di taman itu. Ya itu karena dia sama dengan gue, gue 12 tahun yang lalu. Saat gue memohon pada mama untuk tetap mengijinkan gue untuk sekolah. Saat gue berusaha meyakinkan semua orang kalau gue tidak seperti yang mereka pikirkan. Saat itu gue melakukan semuanya sendiri, gue berusaha menjadi yang terbaik dari yang terbaik.
“Kareen” seseorang memanggil gue dari arah kanan, gue arahkan kepala gue kearah suara itu. Terlihat Keysia sedang turun dari tangga lantai dua, gue lalu melihat jam dinding di ruang tamu itu, waktu menunjukkan pukul 01.00 AM.
“Lu kenapa belum tidur?” tanya gue.  
“Tidak bisa tidur” jawab nya seraya duduk di sofa disebelah gue.
“kenapa? Ada masalah lagi di kampus?” tanya gue, dan dia menggeleng.
“Lalu? Apa yang mengganggu pikiran lu?”
“jika alasan tidak bisa tidur adalah pikiran, lalu apa yang mengganggu pikiran mu setiap hari?” tanya nya pada gue. Gue tertegun mendengar hal itu.
“Kata bibi setiap hari kamu selalu tidur pukul 05.30 pagi , tepat nya ketika bibi bangun, apa yang mengganggu pikiran mu?”
“Bukan urusan lu” kata Gue mengallihkan pandangan gue darinya.
“Kalau begitu, berhenti mengurusin urusan ku! biarkan aku melakukan semua nya sendiri!” kata nya lagi.
“Gue .. Gue tidak bisa!” kata gue masih tanpa menatap nya.
“Kenapa? Pertama kali aku menginjakkan kaki kerumah ini kamu bisa untuk tidak memperdulikan ku, kenapa sekarang tidak? Aku sudah bilang aku tidak ingin di kasihani!” kata nya , nada bicara nya penuh dengan amarah.
‘Karena gue tau bagaimana rasa nya memperjuangkan kembali harga diri kita, bagaimana rasa nya membuat orang-orang kembali memandang kita, dan bagaimana rasa nya berjuang sendiri menghadapi hal-hal tersebut.’ bathin Gue menarik nafas cukup panjang, air mata gue perlahan mulai keluar. Kenangan buruk yang sudah lama ingin gue hapus itu kembali lagi ke ingatan gue.
 “Kareen, kamu nangis? Apa kata-kata ku barusan menyakiti mu??.” katanya dengan nada penuh rasa bersalah.
“Tinggalkan gue sendiri!” kata gue pelan tanpa menatapnya. Namun ia bukannya pergi malah memeluk gue. Tangisan gue semakin pecah ketika ia memeluk gue dan mengelus pundak gue.
“kata ibu, pelukkan adalah salah satu cara untuk berbagi kesedihan jika kita tidak bisa mengungkapkan kesediahan itu” kata nya pelan.
“Aku minta maaf kalau perkataan ku melukai mu, aku hanya ingin membantu mu, karena kamu telah membantu ku hari ini” katanya lagi namun gue tidak menjawab, malam itu pertama kali semenjak 10 tahun belakangan ini gue bisa mengeluarkan semua air mata gue.

==Skip Time==

02.00 AM,

“Minum lah, coklat bisa menenangkan perasaan”” kata nya memberikan secangkir coklat hangat yang ia buat pada gue.
“ibu lu juga yang mengatakan?” tanya gue seraya menerima coklat hangat itu. Dan dia mengangguk sambil tersenyum.
“berhenti lah minum kopi, kopi itu yang membuatmu tidak tidur tiap malam kareen” kata nya memandang gue.
“itu lah yang gue ingin kan, gue tidak ingin tidur di malam hari” kata gue seraya meletakkan cangkir coklat yang sudah gue minum sedikit itu di atas meja. Gue tidak mendengar pertanyaan ‘mengapa’ dari nya, Gue tahu ia takut menyakiti gue dengan pertanyaannnya lagi.  Gue Tarik nafas yang cukup panjang.
“12 tahun yang lalu,”

#FlashBack#

“Reen, cepat bangun, nanti kakak telat loh” kata seorang anak lelaki berusia 14 tahun itu seraya mengetuk pintu kamar gue. Perkenalkan dia Steven, abang gue. Setiap pagi tugasnya memang membangunkan gue yang paling susah bangun pagi ini, namun tidak untuk hari ini.
“Iya loh kak,” kata gue seraya membuka pintu kamar gue yang di gedor dari tadi.
“tumben udah siap” tanya nya terkejut melihat gue sudah  berpakaian rapih,
“Iya donk, hari ini kan kakak lomba, kalau Kareen telat bisa di ceramahin papa sampai malam” Kata gue melewati nya yang terbengong itu dan langsung menuju ruang makan.
“Pagi Ma , Pagi Pa” sapa gue dan duduk di kursi meja makan.
“Nah gitu donk, gak merepotkan kakak mu tiap pagi” kata papa seraya menyiapkan roti untuk Kak Steven. Papa memang sangat sayang dengan Kak Steven. Kak Steven selalu menjadi kebanggaan Papa. Dia selalu mendapatkan juara 1 di kelas, dan juga mendali emas dalam perlombaan lari.
“Kareen hari ini ada les piano kan?” tanya mama seraya memberikan roti kepada gue, dan gue hanya mengangguk.
“Ya udah, nanti selesai perlombaan Steven mama antar kareen ya,” kata mama tersenyum lembut.
“Okeii,” jawab gue membalas senyuman mama.
08.00 AM, kami sudah sampai di tempat perlombaan, Kak steven sekarang sudah berada di lintasan lomba. Gue dan mama duduk di kursi penonton, sedangkan papa berdiri di pinggir lintasan untuk menyemangati kak Steven.
“Kareen yakin kak steven akan menang,” kata gue pada mama. Dan mama mengangguk. Tidak lama kemudian seorang wanita dan seorang pria datang bersama seorang anak perempuan kecil, menurut ku umurnya sekitar 6 tahunan. Mama sepertinya sangat mengenali wanita itu. Mereka berbincang hangat di sebelah kanan gue, sedangkan anak perempuan itu duduk di sebelah kiri gue.
“Itu kakak ku, Kak Rendy” tunjuknya pada seorang finalis yang berdiri di sebelah kak steven.
“Dan itu kakak gue” balas gue tidak mau kalah.
“hari ini kakak ku pasti menang” kata anak kecil itu semangat.
“Tidak kakak gue donk yang menang” kata gue kali ini.
“Hmm baiklah kakak kita berdua akan menang” kata nya tersenyum dan gue mengangguk sambil tersenyum juga.
Fluit pertama pun terdengar, tanda lomba akan di mulai.  Aba-aba pun mulai terdengar.
“BERSEDIA” teriak seorang juri dari microphone yang ia pegang. semua finalis sudah pada posisi bersiap nya.
“SIAP!” Teriaknya lagi, kali ini semua finalis mulai mengambil ancang-ancang.
“YA!” dan Perlombaan pun dimulai
Kak Steven memimpin barisan, di belakangnya terlihat dua finalis lain nya salah satu nya adalah Kakak gadis yang berada di sebelah ku itu. Seluruh penonton mulai meneriaki jagoannya, termasuk aku dan mama juga anak kecil ini.
“Ayok Kak Rendy!!” teriaknya memekakkan telinga ku. Suara nya benar-benar melengking.
Kak Steven mulai mendekati garis finish, namun finalis di belakangnya mulai menyusul nya. Dan ya, Finalis yang tak lain adalah kakak gadis ini berhasil mendahului kak Steven melewati garis finish.
“YEEEEE,” sorak nya kegirangan sambil menari-nari.  Mama lalu beranjak menghampiri kak Steven, gue mengikuti mama dari belakang. Gue tidak tahan mendengar teriakan anak di samping gue itu. Sebelum gue sampai ke tempat kak Steven ,papa menarik tangan gue untuk pergi dari sana. Papa terlihat sangat kesal. Gue dapat melihat wajah kak Steven yang memandang papa dari belakang sana. Ada mama disana yang memeluk kak steven erat.
Papa mengantar gue ke tempat les piano tanpa berkata apapun.
Malam nya, suasana di meja makan saat itu benar-benar tidak menyenangkan seperti biasanya. Papa tetap fokus pada makananya, sesekali ia akan meletakkan lauk ke piring gue. Ini sangat aneh, biasa nya juga papa bersikap seperti itu pada Kak Steven.
“Pa, Steven mau ikannya donk” kata kak Steven berusaha mencairkan suasana. Namun papa tidak menjawab. Papa tetap fokus makan.
“Sini biar mama yang ambil kan,” mama lalu hendak mengambil ikan yang berada tidak jauh dari piring papa. Begitu tangan mama meraih piring tersebut , papa lalu bangkit dan meninggalkan makannanya yang masih sisa setengah itu.
Kami bertiga memandang papa terkejut,
“Stev kenyang ma,” kata kak Steven dan beranjak juga dari meja makannya menuju kamarnya. Gue yakin keadaan ini akan pulih setelah beberapa hari. Namun, dugaan gue salah, sebulan sudah berlalu dan papa tetap mendiamkan kak Steven. Malam itu gue memutuskan untuk mengerjakan PR di ruang tamu bersama papa yang sedang sibuk dengan laptop nya.
“Pa, “ sapa kak steven yang ntah sejak kapan sudah berada disana. Papa sama sekali tidak memperdulikan sapaan itu. Kak Steven lalu duduk di samping papa, namun setelah kak steven duduk papa menutup laptop nya dan bangkit dari sana. Kak Steven menahan tangan papa.
“Cukup pa, cukup mendiamin steven seperti ini, kalau steven ada salah marahin steven pa, tapi jangan diamin Steven” gue dapat melihat air mata kak steven saat itu. Papa lalu berbalik memandang nya, dan lalu menarik tangan kak steven cukup kasar menurut gue. Papa menarik kak Steven ke ruangan kerja nya, gue mengikuti mereka dari belakang.
Bersambung,
Tag :  Drama, Family, Nandini, Mysteri, Misteri, Part 8, Sedih, Papa, Insomnia, Psikopat, Slice Of Life, Susah, When You Open Your Eyes, Masa lalu, Psikopat, Sister.

Post a comment

3 Comments

  1. Oh.. Trnyata kareen pnya kakak gue sangka slama ini kareen anak tunggal tp knapa karen dan kakak nya tak prnah barengan lg ya? Sbnarnya apa yg trjadi sih??? Please part 9 d up dgn cpat dan part slanjut nya ya jgn smpe terhenti ya...😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks support nya, nah teka-teki nya ada di part 9 nih :)

      Delete
  2. Steven kemana??
    Kok Kareen tinggal sendiri??
    Apakah adik Kak Rendy itu si Keysia?
    Kapan up nii author??

    ReplyDelete